Jakarta- Pemahaman agama yang moderat dan selaras dengan prinsip kebangsaan adalah benteng utama melawan radikalisme di kalangan pelajar. Densus 88 AT Polri bersama Kanwil Kemenag DKI Jakarta dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta menggelar Bedah Film "Jihad Selfie" dan diskusi interaktif yang diikuti 200 Ketua OSIS, guru, komite sekolah, serta wali murid SMA/MA se-Provinsi DKI Jakarta, Rabu (19/8/2026). Kakanwil Kemenag DKI Jakarta Adib menegaskan pentingnya membangun pemahaman keagamaan yang moderat. "Di Kanwil Kementerian Agama tentu mendorong untuk terus terbangunnya pemahaman beragama yang moderat, pemahaman beragama yang sejalan dengan prinsip-prinsip kebangsaan, pemahaman dan pengamalan ajaran agama yang menjunjung tinggi keragaman, perbedaan dan menolak bentuk kekerasan apa pun," ujarnya.
Kasubdit Kontra Ideologi Densus 88, Kombes Pol. Moh Dofir, menekankan peran keluarga dan sekolah dalam memberikan rasa aman dan ruang dialog bagi anak. Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan DKI Jakarta Ali Mukodas menyampaikan bahwa pencegahan terorisme adalah bagian dari membangun generasi yang tidak mudah dihasut kebencian. "Pencegahan terorisme pada akhirnya bukan hanya tentang mencegah sebuah tindakan kekerasan, melainkan kita sedang membangun generasi yang tidak mudah dipecah oleh perbedaan dan tidak mudah dihasut oleh kebencian," ujarnya.
Kompol Agus Isnaini dari Densus 88 menjelaskan ancaman narasi ekstrem di ruang digital, sementara Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen, Ruspita Putri Utami, menekankan pentingnya sekolah yang inklusif dan deteksi dini. Spesialis Perlindungan Anak UNICEF Indonesia, Ignatius Setiawan Cahyo Nugroho, menekankan perlunya pendekatan sistemik dalam perlindungan anak dan pencegahan eksploitasi. "Kita sering memberikan jawaban tidak sistemik, sedangkan masalahnya sistemik. Agar kita bisa berpikir sistemik maka kita perlu berpikir secara komprehensif," katanya.
Melalui bedah film dan diskusi interaktif, peserta diajak memahami bagaimana proses paparan ideologi kekerasan terjadi dan pentingnya komunikasi antara anak, orang tua, dan sekolah. Kegiatan ini diharapkan memperkuat ketahanan keluarga, meningkatkan deteksi dini, dan mendorong sekolah yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan. Dengan moderasi beragama sebagai fondasi, generasi muda Indonesia akan tumbuh menjadi individu yang menghargai keragaman, menolak kekerasan, dan menjaga keutuhan bangsa.(Avs)
0 comments:
Posting Komentar