Minggu, 23 Agustus 2026

Bank Sampah Jadi Sumber Tanah, Bhabinkamtibmas Ngasem Sebut Ini Terobosan Pertanian Urban


Nganjuk- Ada yang berbeda dari kunjungan patroli Aiptu Yoga ke Desa Ngasem pada Senin lalu, karena ia tidak hanya menemukan kebun sayuran, tetapi juga menemukan model pertanian yang sangat cocok untuk kawasan padat penduduk. Di pekarangan sempit berukuran tak lebih dari dua meter persegi, puluhan polybag berjejer rapi menampilkan kubis, terong, dan cabai yang tumbuh sehat dan menggoda.


Yang membuat Aiptu Yoga semakin tertarik adalah bahan dasar media tanam yang digunakan, yaitu tanah yang dibeli dari bank sampah setempat dengan harga bervariasi antara Rp6 ribu hingga Rp10 ribu per sak. Sang pemilik kebun menjelaskan bahwa kualitas tanah dari bank sampah ternyata cukup baik asalkan dicampur dengan pupuk organik dan dirawat secara berkala.


Dalam perbincangan yang berlangsung akrab, ibu tersebut mengungkapkan kebiasaan rutinnya menyiram dan memberi vitamin tanaman setiap hari, bahkan tidak pernah melewatkan satu hari pun tanpa mengecek kondisi setiap polybag. Aiptu Yoga melihat sendiri bagaimana dedikasi sederhana ini menghasilkan sayuran yang tidak kalah kualitasnya dengan produk dari ladang terbuka.


Bhabinkamtibmas itu menilai sistem polybag ini adalah solusi cerdas bagi masyarakat perkotaan dan pinggiran yang memiliki keterbatasan akses lahan pertanian konvensional. Ia berencana mendokumentasikan metode ini dan menjadikannya bahan sosialisasi dalam setiap kegiatan pembinaan masyarakat di wilayah binaannya.


Saat mendengar bahwa biaya total untuk memulai kebun polybag hanya sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, Aiptu Yoga semakin yakin bahwa ini adalah program yang inklusif dan bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Ia bahkan berdiskusi dengan sang ibu tentang kemungkinan untuk mengembangkan kebun tersebut menjadi sumber pendapatan tambahan dengan menjual hasil panen ke tetangga atau pasar lokal.


Di akhir pertemuan, Aiptu Yoga menyampaikan apresiasi yang mendalam dan berjanji akan kembali dalam dua minggu untuk melihat perkembangan kebun tersebut. Ia percaya bahwa semangat satu ibu ini bisa menjadi katalisator gerakan ketahanan pangan berbasis rumah tangga yang sangat dibutuhkan di era lahan yang semakin terbatas. (Avs)

0 comments:

Posting Komentar