Senin, 07 September 2026

Wakapolri: Tiga Perubahan Fundamental Hadapi Karhutla, Bukan Sekadar Padam Api


Jakarta– Senin, 7 September 2026, Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo mendorong transformasi penanganan Karhutla dengan tiga perubahan fundamental. Pertama, dari reaktif menjadi antisipatif. Kedua, penegakan hukum individual dan korporasi. Ketiga, dari sektoral menjadi multi-stakeholder. Hal ini disampaikan saat membekali 322 personel Satgas Edukasi, Penyuluhan dan Pencegahan Karhutla di STIK PTIK.


Personel yang terdiri dari 64 Sespimti, 207 Sespimmen, dan 29 SPPK akan bertugas 10 hari di Sumsel, Kalbar, Kalteng, dan Kaltim. Wakapolri menekankan pentingnya predictive policing dengan data hotspot, cuaca, dan teknologi. "Jangan hanya datang untuk penyuluhan, audit manajemennya," tegasnya.


Hingga 6 September 2026, tercatat 113.616 hotspot dengan luas lahan terbakar 202.010 hektare. Kondisi gambut sangat rawan dengan muka air tanah di Sumsel -231 cm dan Kalteng -143 cm. Pengelolaan tata air melalui sekat kanal dan restorasi hidrologis menjadi bagian penting dari strategi.


Kolaborasi dibangun dari nasional hingga tapak melibatkan berbagai pihak. Penegakan hukum telah menangani 200 laporan polisi dengan 138 tersangka. Komunikasi krisis juga diperkuat mengingat 117.022 penyebutan di ruang digital. "Kerja lapangan harus diikuti komunikasi yang baik agar kehadiran negara terbaca," pungkas Wakapolri. (Avs)

0 comments:

Posting Komentar